Bali memang dari zaman dulu sudah dikenal serius mengembangkan pariwisata, cuman hal ini terus menerus dirongrong dari dalam dan luar negeri:
1. Terorisme, Bom Bali I dan II, dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi Bom Bali III, IV, V dan seterusnya selama bendera radikalisme terus dibiarkan berkibar di langit yang biru.
2. RUU Pornografi yang serba ga jelas, serba ngawur dan dipenuhi kemunafikan penyusunnya. Coba diperiksa satu-persatu laptop/komputer anggota DPR, periksa hard disk plus internet cache-nya ...keluarkan apa apa isinya, apa anggota DPR berani?? anggota Badan Kehormatan, saya ulangi BADAN KEHORMATAN DPR saja beberapa terlibat skandal sexual, pelecehan perempuan.
3. Pihak luar yang sudah mematenkan beberapa motif kesenian asli Bali
Kemudian ada juga teman yang bilang bersedih hati kalo Bali direduksi menjadi produk wisata, kenapa yang dikembangkan hanya pariwisata?bagaimana dengan bidang lain?
Kalau ada pandangan seperti ini, saya rasa kurang tepat. Kalo kita lihat lagi, sebenarnya yang saat ini cukup berkembang pariwisatanya adalah daerah Bali Selatan (Bangli, Gianyar, Badung, Denpasar, Tabanan dan sekitarnya). Sedangkan kawasan Bali Utara yang didominasi oleh Buleleng, pariwisata disana kurang berkembang, paling hanya Lovina, Yeh Sanih. Disini pertanian masih mendominasi, termasuk di desa saya, karena daerahnya termasuk dataran tinggi, petani di desa saya mengandalkan hasil-hasil perkebunan seperti cengkeh, buah2an (terutama mangga), sebagian kelapa ...
Ada juga di Tabanan di samping statusnya sebagai lumbung beras buat Bali, ternyata sengkedan2 persawahan yang elok menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Jadi disini pertanian sekaligus pariwisata ....
Dan saya setuju pariwisata Bali terus dikembangkan kalo memang daerahnya potensial. Pernah dulu waktu saya SMA ada rencana untuk membangun Sirkuit F1 di Bali, kalo ga salah di daerah Negara yang diprakarsai oleh Tinton Soeprapto. Namun rencana ini ditentang habis-habisan dengan berbagai argumen,teori dan analisis yang saya rasa berlebihan. Akhirnya rencana ini terkubur dalam-dalam sampai sekarang, eh sekarang malah negara tetangga kita, Singapore yang bahkan luasnya lebih kecil dari Bali, menjadi negara pertama di dunia yang menyelenggarakan F1 malam hari. Sepertinya kita kebakaran jenggot ....brapa banyak wisatawan yang datang untuk menyaksikan F1 bersejarah tersebut, brapa banyak devisa yang masuk ke Singapore?
Cilincing, Jakarta
Rabu, 08 Oktober 2008
Mistake Circle
Bagaimana kalau orang yang kita sayangi selalu melakukan kesalahan berulang-ulang. Mungkin kesalahannya itu sering melukai hati kita. Kemudian dia meminta maaf dan setelah berpikir matang kita pun akhirnya memaafkan dia. Demikian seterusnya ...They keep doing mistake, then keep asking for apologize and we also keep forgiving them. It's really such a mistake circle.
Seolah-olah mereka tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya, bahwa kesalahan yang mereka perbuat bisa melukai hati orang yang mencintainya ...
Kalau kaya gini, haruskah kita tetap mencintai dan menyayanginya?
Tuhan yang maha kuasa memberikan kita hati, untuk mencintai dan menyayangi seseorang, namun Tuhan juga memberi anugrah berupa otak untuk berpikir secara logis, apa dia pantas untuk dicintai dan disayangi .....
Seolah-olah mereka tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya, bahwa kesalahan yang mereka perbuat bisa melukai hati orang yang mencintainya ...
Kalau kaya gini, haruskah kita tetap mencintai dan menyayanginya?
Tuhan yang maha kuasa memberikan kita hati, untuk mencintai dan menyayangi seseorang, namun Tuhan juga memberi anugrah berupa otak untuk berpikir secara logis, apa dia pantas untuk dicintai dan disayangi .....
Minggu, 05 Oktober 2008
Google Chrome
Akhirnya Google meluncurkan browser sendiri juga. Sebagai raksasa internet, sudah selayaknyalah Google punya browser sendiri. Memang kalau masalah internet, saya rasa Google top markotop lah ...saya yakin mozilla sama microsoft dibikin ketar-ketir dengan kehadiran browser ini.
Mungkin saat ini Firefox mampu memenangkan hati sebagian pengguna internet, cuman mesti diingat, banyak situs-situs top yang menjadi produk Google, seperti mesin cari sejuta umat google.com, situs berbagi video youtube.com, blogger.com terus gmail.com dan berbagai produk google lainnya. Saat ini mungkin belum kelihatan seberapa optimum akses situs tersebut dengan menggunakan Chrome (yang juga bikinan Google), masih terlihat sama saja dengan mengakses dari browser lain. Tapi bagaimana kedepannya? Chrome yang notabenenya lahir dari rahim yang sama, siapa tau Google menambahkan fitur-fitur tertentu yang unik pada browser ini untuk membuat akses ke produk-produk Google menjadi berbeda dari browser yang lain, toh secara logika Google tau semua jeroannya :) Biarkan waktu yang menjawab .....
Google, dari mesin cari menjadi mesin uang.
Selasa, 16 September 2008
Budayawan, cendekiawan Bali kembali tolak RUU Pornografi
-- Dari Milis komunitas orang Bali --
Satu lagi yang akan merongrong Budaya dan Pariwisata Bali, kali ini ancaman kembali datang dari dalam negeri
Budayawan dan cendekiawan Bali kembali menyatakan penolakan mereka pada RUU (Rancangan Undang-Undang) Pornografi yang rencananya akan disahkan DPRI RI pada akhir September ini.
Penolakan itu disampaikan dalam pernyataan sikap usai pertemuan bersama di Danes Art Veranda, Tanjung Bungkak, pada Sabtu (13/9) pagi.
RUU Pornografi adalaha penjelmaan RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang pada 2006 lalu memicu aksi penolakan besar-besaran masyarakat Bali sehingga akhirnya ditunda pembahasannya oleh DPR RI.
Awal September ini DPR RI kembali memulai pembahasan resmi atas penyempurnaan RUU APP, yang diberi nama RUU Pornografi. Dimotori oleh fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pembahasan RUU ini diharapkan rampung menjelang akhir bulan untuk kemudian segera disahkan menjadi Undang-Undang.
Pertemuan di Danes Art Veranda dihadiri 22 cendekiawan dan budayawan Bali, termasuk Koordinator Komponen Rakyat Bali (KRB), I Gusti Ngurah Harta, Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, mantan hakim Mahkamah Konstitusi I Dewa Gde Palguna, guru besar ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Dibia, koordinator BCW Putu Wiratha Dwikora dan aktivis perempuan Luh Putu Anggreni..
KRB adalah organisasi yang pada 2006 lalu memotori perlawanan rakyat Bali terhadap RUU APP.
Usai mendengarkan paparan cendekiawan muda Sugi Lanus yang mewakili KRB untuk memantau perkembangan proses pembahasan RUU Pornografi di Jakarta beberapa waktu lalu, secara bergiliran para peserta pertemuan memberikan sumbang saran tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghadang pengesahan RUU tersebut.
“Kita harus melakukan pressure kepada Presiden karena tanpa persetujuan presiden RUU itu tidak akan bisa disahkan,” usul I Dewa Gde Palguna.
Seandainya RUU itu tetap disahkan, maka masyarakat Bali bisa mengajukan judicial review atau uji formal atas Undang-Undang itu kepada Mahkamah Konstitusi.
“Ini merupakan alternatif terakhir dan harus disiapkan secara matang agar argumentasi hukum yang kita sampaikan benar-benar tajam dan kuat,” tambahnya.
Prof Dr I Wayan Dibia menyarankan agar segera dibentuk tim kecil untuk mendata kesenian-kesenian Bali yang akan terancam eksistensinya oleh penerapan Undang-Undang Pornografi.
Pertemuan diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap oleh I Gusti Ngurah Harta. Dalam pernyataan sikap itu para peserta pertemuan sepakat untuk tetap menolak RUU Pornografi.
Para peserta juga sepakat untuk membentuk sebuah tim kecil guna menyiapkan nasakah judicial review dan uji formal atas Undang-Undang tersebut. Selain itu, akan segera dibentuk sebuah tim untuk menghadap Presiden guna menegaskan penolakan masyarakat Bali pada Undang-Undang yang dinilai tidak menghormati keragaman budaya dan hak relijius masyarakat minoritas di Indonesia.
“Kita juga akan melakukan aksi massa dalam bentuk pertunjukkan-pertunjukan kesenian tradisional Bali yang dinilai melanggar Undang-Undang tersebut. Ini adalah sebuah bentuk pembangkangan sipil atas upaya-upaya untuk menindas masyarakat Bali,” ujar Ngurah Harta.
Ia menjamin bahwa seluruh perjuangan rakyat Bali dalam menghadang pengesahan RUU Pornografi akan tetap dilakukan dalam bingkai ke-Indonesia-an dan menghormati ke-Bhineka-an.
=================================
Pernyataan Sikap KRB (Komponen Rakyat Bali)
1) Tetap Menolak RUU Pornografi.
2) Menyiapkan tim dan naskah judicial review dan uji formal RUU Pornografi.
3) Menyiapkan tim kecil untuk melakukan inventarisasi kekayaan budaya yang terancam eksistensinya oleh RUU Pornografi
4) Membentuk tim kecil untuk menghadap Presiden
5) Melakukan tekanan pada DPR untuk menghentikan pembahasan RUU Pornografi.
6) Melakukan aksi massa pembangkangan sipil dengan penekanan pada aksi budaya.
7) Tetap menjaga agar seluruh perjuangan berada dalam bingkai ke-Indonesia-an dan ke-Bhineka-an.
Disepakati oleh 22 cendekiawan dan budayawan Bali di Danes Art Veranda pada 13 September 2008.
01) I Gusti Ngurah Harta (Koordinator KRB)
02) Ida Pedanda Sebali Tianyar (Rohaniawan)
03) Prof Dr I Wayan Dibia (Seniman Tari)
04) Sugi Lanus (Penulis)
05) Rudolf Dethu (Promotor Musik)
06) I Dewa Gede Palguna (Cendekiawan)
07) Tan Lioe Ie (Penyair)
08) Putu Wirata Dwikora (Cendekiawan)
09) Wayan Redika (Pelukis)
10) Aridus (Penulis)
11) Iwan Darmawan (Penulis)
12) Marlowe Bandem (DJ)
13) Yastini (Aktivis LSM)
14) Jango Paramartha (Kartunis)
15) Mas Ruscitadewi (Penyair)
16) Warih Wisatsana (Penyair)
17) Made Kaek (Pelukis)
18) Kun Adnyana (Pelukis)
19) Luh Anggreni (Aktivis LSM)
20) Popo Danes (Arsitek)
21) Prof. Dr. Dasi Astawa (Cendekiawan)
22) I Wayan Juniarta (Penulis)
Satu lagi yang akan merongrong Budaya dan Pariwisata Bali, kali ini ancaman kembali datang dari dalam negeri
Budayawan dan cendekiawan Bali kembali menyatakan penolakan mereka pada RUU (Rancangan Undang-Undang) Pornografi yang rencananya akan disahkan DPRI RI pada akhir September ini.
Penolakan itu disampaikan dalam pernyataan sikap usai pertemuan bersama di Danes Art Veranda, Tanjung Bungkak, pada Sabtu (13/9) pagi.
RUU Pornografi adalaha penjelmaan RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang pada 2006 lalu memicu aksi penolakan besar-besaran masyarakat Bali sehingga akhirnya ditunda pembahasannya oleh DPR RI.
Awal September ini DPR RI kembali memulai pembahasan resmi atas penyempurnaan RUU APP, yang diberi nama RUU Pornografi. Dimotori oleh fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pembahasan RUU ini diharapkan rampung menjelang akhir bulan untuk kemudian segera disahkan menjadi Undang-Undang.
Pertemuan di Danes Art Veranda dihadiri 22 cendekiawan dan budayawan Bali, termasuk Koordinator Komponen Rakyat Bali (KRB), I Gusti Ngurah Harta, Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, mantan hakim Mahkamah Konstitusi I Dewa Gde Palguna, guru besar ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Dibia, koordinator BCW Putu Wiratha Dwikora dan aktivis perempuan Luh Putu Anggreni..
KRB adalah organisasi yang pada 2006 lalu memotori perlawanan rakyat Bali terhadap RUU APP.
Usai mendengarkan paparan cendekiawan muda Sugi Lanus yang mewakili KRB untuk memantau perkembangan proses pembahasan RUU Pornografi di Jakarta beberapa waktu lalu, secara bergiliran para peserta pertemuan memberikan sumbang saran tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghadang pengesahan RUU tersebut.
“Kita harus melakukan pressure kepada Presiden karena tanpa persetujuan presiden RUU itu tidak akan bisa disahkan,” usul I Dewa Gde Palguna.
Seandainya RUU itu tetap disahkan, maka masyarakat Bali bisa mengajukan judicial review atau uji formal atas Undang-Undang itu kepada Mahkamah Konstitusi.
“Ini merupakan alternatif terakhir dan harus disiapkan secara matang agar argumentasi hukum yang kita sampaikan benar-benar tajam dan kuat,” tambahnya.
Prof Dr I Wayan Dibia menyarankan agar segera dibentuk tim kecil untuk mendata kesenian-kesenian Bali yang akan terancam eksistensinya oleh penerapan Undang-Undang Pornografi.
Pertemuan diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap oleh I Gusti Ngurah Harta. Dalam pernyataan sikap itu para peserta pertemuan sepakat untuk tetap menolak RUU Pornografi.
Para peserta juga sepakat untuk membentuk sebuah tim kecil guna menyiapkan nasakah judicial review dan uji formal atas Undang-Undang tersebut. Selain itu, akan segera dibentuk sebuah tim untuk menghadap Presiden guna menegaskan penolakan masyarakat Bali pada Undang-Undang yang dinilai tidak menghormati keragaman budaya dan hak relijius masyarakat minoritas di Indonesia.
“Kita juga akan melakukan aksi massa dalam bentuk pertunjukkan-pertunjukan kesenian tradisional Bali yang dinilai melanggar Undang-Undang tersebut. Ini adalah sebuah bentuk pembangkangan sipil atas upaya-upaya untuk menindas masyarakat Bali,” ujar Ngurah Harta.
Ia menjamin bahwa seluruh perjuangan rakyat Bali dalam menghadang pengesahan RUU Pornografi akan tetap dilakukan dalam bingkai ke-Indonesia-an dan menghormati ke-Bhineka-an.
=================================
Pernyataan Sikap KRB (Komponen Rakyat Bali)
1) Tetap Menolak RUU Pornografi.
2) Menyiapkan tim dan naskah judicial review dan uji formal RUU Pornografi.
3) Menyiapkan tim kecil untuk melakukan inventarisasi kekayaan budaya yang terancam eksistensinya oleh RUU Pornografi
4) Membentuk tim kecil untuk menghadap Presiden
5) Melakukan tekanan pada DPR untuk menghentikan pembahasan RUU Pornografi.
6) Melakukan aksi massa pembangkangan sipil dengan penekanan pada aksi budaya.
7) Tetap menjaga agar seluruh perjuangan berada dalam bingkai ke-Indonesia-an dan ke-Bhineka-an.
Disepakati oleh 22 cendekiawan dan budayawan Bali di Danes Art Veranda pada 13 September 2008.
01) I Gusti Ngurah Harta (Koordinator KRB)
02) Ida Pedanda Sebali Tianyar (Rohaniawan)
03) Prof Dr I Wayan Dibia (Seniman Tari)
04) Sugi Lanus (Penulis)
05) Rudolf Dethu (Promotor Musik)
06) I Dewa Gede Palguna (Cendekiawan)
07) Tan Lioe Ie (Penyair)
08) Putu Wirata Dwikora (Cendekiawan)
09) Wayan Redika (Pelukis)
10) Aridus (Penulis)
11) Iwan Darmawan (Penulis)
12) Marlowe Bandem (DJ)
13) Yastini (Aktivis LSM)
14) Jango Paramartha (Kartunis)
15) Mas Ruscitadewi (Penyair)
16) Warih Wisatsana (Penyair)
17) Made Kaek (Pelukis)
18) Kun Adnyana (Pelukis)
19) Luh Anggreni (Aktivis LSM)
20) Popo Danes (Arsitek)
21) Prof. Dr. Dasi Astawa (Cendekiawan)
22) I Wayan Juniarta (Penulis)
Sabtu, 13 September 2008
101 Steps To A Happy Relationship
Dari hasil-hasil survey, pernikahan ataupun pacaran saat ini sudah sangat berbeda dari 20 tahun yang lalu. Hampir 50% dari pernikahan saat ini berujung pada kegagalan karena satu dan lain hal. Sepertinya orang-orang saat ini takut dengan yang namanya "Komitment". Pada saat suatu hubungan dihadapkan pada suatu tantangan ataupun cobaan, pasangan seolah-olah berhenti untuk bertahan dan lekas berputus asa untuk kemudian mengakhiri hubungan. Saat ini, pacaran terlihat seperti lari maraton, dimana seseorang bergonta-ganti pasangan sesering mungkin, daripada serius untuk mencoba mengenal seseorang yang "ditemukan" secara lebih mendalam. Untuk pasangan yang sudah menikah, perceraian menjadi hal yang umum. Apakah mereka sudah menikah 30 tahun atau hanya 8 bulan, hasilnya bisa saja sama.
Mungkin buku "101 Steps To A Happy Relationship" bisa menjadi salah satu petunjuk atas semua permasalahan ini .... silakan didownload di http://rapidshare.com/files/144894750/101.Steps.To.A.Happy.Relationship.pdf.html
Mungkin buku "101 Steps To A Happy Relationship" bisa menjadi salah satu petunjuk atas semua permasalahan ini .... silakan didownload di http://rapidshare.com/files/144894750/101.Steps.To.A.Happy.Relationship.pdf.html
Jumat, 12 September 2008
Selamat Tinggal Kawan
Pagi itu 12 September 08, waktu menunjukkan 8.30, baru habis mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor, ada SMS masuk yang sangat mengagetkan dan membuat bulu kuduk merinding. Fransisca ngirim SMS "Aku dnger kbr ga enak ttg ti2k..Bnr ga?" Terus saya bales "kbar apa?". Dia bales "Ti2k kclakaan..Meninggl..Ntar nympe d sgr.." saya bales lagi "kmu dgr dri siapa?" dia jawab "Tlg cr info bnr pa ga..Ak ga brani hub titik". Dengan kondisi yang bengong dan terpaku kemudian datang SMS lagi "Fwd from felicia
Frenz,ti2k kcelakaan smalem n meninggal .nanti sore sampe bali langsung ke singaraja.tks note tlong dsampaikan keteman yang laen.gbu n gb titik"
Seolah-olah ga percaya dan kaget setengah mati akan apa yang saya baca dari SMS-SMS itu, Titik adalah kawan baik saya, orangnya asik banget. Dia kawan SMA, kemudian dia kuliah di Surabaya, lalu bekerja di toko komputer di bilangan Jakarta Barat. Lama tidak berjumpa dan berkabar, tiba-tiba beberapa minggu sebelum kejadian naas ini, ada add request di YM yang namanya seperti tidak asing lagi, Suharta Wantara. Sesaat kemudian pikiran mulai mengingat-ngingat dan mencari di memori otak siapakah gerangan orang ini? Lalu plek, ooooo Titik ....kawan SMA yang gendut itu tooo. Begitu celoteh dalam hati.
Kemudian kita mulai ngobrol-ngobrol seputar pekerjaan masing-masing, lokasi kerja dan domisili sekarang. Percakapan saat itu juga sesekali diselingi senda gurau. Saat itu yang paling saya ingat adalah tahun depan dia akan mulai membuka toko kumputer sendiri. Saya tanya, modalnya berapa untuk buka toko komputer? Titik jawab 1 M, sumbernya sebagian dari dari boss-nya sekarang tempat dia bekerja dan sebagian lagi dari keluarga. Makanya sekarang dia giat kerja dulu di toko komputer punya orang buat nyari ilmu. Saya bener-bener salut sama orang yang punya cita-cita seperti ini, punya mental untuk memulai usaha sendiri, tidak selamanya bekerja sama orang. Kata orang-orang, kalau kita bekerja sama orang, kita hanya akan mewujudkan impian orang lain, sedangkan kita sendiri juga punya impian.
Kalau misal Titik masih ada, saya yakin dia mampu mengelola usaha itu dengan baik.
Titik yang menghidupkan kembali milis Alumni SMANSA Singaraja angkatan 2001, setelah vakum selama bertahun-tahun. Dia juga yang mengundang saya untuk join ke milis itu, sehingga bisa bersua dan bercanda lagi dengan temen SMA satu angkatan dalam dunia maya ini.
Setelah berangkat ke kantor pagi itu, saya langsung cek email dan di milis alumni sudah ramai ucapan bela sungkawa kepada Titik. Saya langsung saja ikut mengirim ucapan bela sungkawa juga ...
Banyak di antara temen-temen yang tidak percaya akan apa yang menimpa Titik ... tapi apa mau dikata, Titik sudah meninggalkan kami semua. Meski dia sudah pergi, tapi dia tetep ada di hati kami, kami akan selalu merindukan dia ... Selamat Tinggal Kawan, beristirahatlah dalam damai ....
Frenz,ti2k kcelakaan smalem n meninggal .nanti sore sampe bali langsung ke singaraja.tks note tlong dsampaikan keteman yang laen.gbu n gb titik"
Seolah-olah ga percaya dan kaget setengah mati akan apa yang saya baca dari SMS-SMS itu, Titik adalah kawan baik saya, orangnya asik banget. Dia kawan SMA, kemudian dia kuliah di Surabaya, lalu bekerja di toko komputer di bilangan Jakarta Barat. Lama tidak berjumpa dan berkabar, tiba-tiba beberapa minggu sebelum kejadian naas ini, ada add request di YM yang namanya seperti tidak asing lagi, Suharta Wantara. Sesaat kemudian pikiran mulai mengingat-ngingat dan mencari di memori otak siapakah gerangan orang ini? Lalu plek, ooooo Titik ....kawan SMA yang gendut itu tooo. Begitu celoteh dalam hati.
Kemudian kita mulai ngobrol-ngobrol seputar pekerjaan masing-masing, lokasi kerja dan domisili sekarang. Percakapan saat itu juga sesekali diselingi senda gurau. Saat itu yang paling saya ingat adalah tahun depan dia akan mulai membuka toko kumputer sendiri. Saya tanya, modalnya berapa untuk buka toko komputer? Titik jawab 1 M, sumbernya sebagian dari dari boss-nya sekarang tempat dia bekerja dan sebagian lagi dari keluarga. Makanya sekarang dia giat kerja dulu di toko komputer punya orang buat nyari ilmu. Saya bener-bener salut sama orang yang punya cita-cita seperti ini, punya mental untuk memulai usaha sendiri, tidak selamanya bekerja sama orang. Kata orang-orang, kalau kita bekerja sama orang, kita hanya akan mewujudkan impian orang lain, sedangkan kita sendiri juga punya impian.
Kalau misal Titik masih ada, saya yakin dia mampu mengelola usaha itu dengan baik.
Titik yang menghidupkan kembali milis Alumni SMANSA Singaraja angkatan 2001, setelah vakum selama bertahun-tahun. Dia juga yang mengundang saya untuk join ke milis itu, sehingga bisa bersua dan bercanda lagi dengan temen SMA satu angkatan dalam dunia maya ini.
Setelah berangkat ke kantor pagi itu, saya langsung cek email dan di milis alumni sudah ramai ucapan bela sungkawa kepada Titik. Saya langsung saja ikut mengirim ucapan bela sungkawa juga ...
Banyak di antara temen-temen yang tidak percaya akan apa yang menimpa Titik ... tapi apa mau dikata, Titik sudah meninggalkan kami semua. Meski dia sudah pergi, tapi dia tetep ada di hati kami, kami akan selalu merindukan dia ... Selamat Tinggal Kawan, beristirahatlah dalam damai ....
Habis Teroris Muncul Penjahat Kapitalis

Wah ... wah, sangat memprihatinkan dan sangat sangat menyakitkan hal ini sampai terjadi pada tanah kelahiran saya. Karya seni dan budaya yang seharusnya menjadi milik masyarakat bersama sekarang malah menjadi milik perorangan. Orang bule memanfaatkan keluguan dan keramahan orang Bali yang sudah ngajarin berbagai ilmu kesenian dengan penuh kesabaran di desa internasional seperti UBUD. Tapi apa yang mereka dapat? Benar-benar air susu dibalas air tuba ...
atau malah pemerintah kita yang kebakaran jenggot?
Kalau dulu Pariwisata Bali menjadi korban aksi terorisme oleh oknum bangsa kita sendiri, Bom Bali I dan Bom Bali II. Sekarang, disaat Pariwisata Bali mulai menggeliat lagi, tiba-tiba saja tertimpa masalah seperti ini dari orang-orang asing. Pariwisata dan kebudayaan Bali benar-benar ditindas dan dirongrong dari dalam dan luar negeri ....mengerikan sekali kawan....
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/12/14474846/weleh....perajin.bali.malah.dituding.menjiplak
Weleh... Perajin Bali Malah Dituding Menjiplak
KOMPAS/AYU SULISTYOWATI
Belasan perajin perak Bali demo di halaman kantor DPRD Bali. Mereka menuntut perhatian anggota dewan rakyat agar peduli nasib mereka yang di jajah asing dengan mematenkan sejumlah hasil karya mereka.
/
Artikel Terkait:
Perajin Perak Bali Protes
Banyak Perajin Perak Jadi Tukang Batu
JUMAT, 12 SEPTEMBER 2008 | 14:47 WIB
DENPASAR, JUMAT- Malang benar nasib Ketut Deni Aryasa, perajin perak asal Bali. Ia dituding menjyiplak salahsatu motif perusahaan perak milik asing, PT Karya Tangan Indah. Deni Aryasa bahkan telah diseret ke meja hijau dan dituntut dua tahun penjara.
"Motif yang saya gunakan ini adalah milik kolektif masyarakat di Bali, yang sudah ada sejak dulu. Bukan milik perseorangan, tapi mengapa bisa dipatenkan pihak asing," kata Deni Aryasa, yang ditemui di rumahnya di Denpasar, Jumat (12/9).
Deni Aryasa dituding meniru dan menyebarluaskan motif fleur atau bunga. Padahal motif ini adalah salah satu motif tradisional Bali yang kaya akan makna. Motif serupa dapat ditemui di hampir seluruh ornamen seni di Bali, seperti gapura rumah, ukiran-ukiran Bali, bahkan dapatditemui sebagaimotif pada sanggah atau tempat persembahyangan umat Hindu di Bali.
Ironisnya, motif tradisional Bali ini ternyata dipatenkan pihak asing di Direktorat Hak Cipta, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Republik Indonesia pada tahun 2006 dengan nomor 030376. Pada surat keputusan Ditjen Haki, tertulis pencipta motif fleur adalah Guy Rainier Gabriel Bedarida, warga Prancis yang bermukim di Bali. Sedangkan pemegang hak cipta adalah PT Karya Tangan Indah milik pengusaha asal Kanada, John Hardy.
Dengan tudingan melanggar hak cipta, Deni Aryasa kini dituntut dua tahun penjara. Bahkan Deni sempat ditahan selama 40 hari di LP Kerobokan Bali. Kini Deni menjalani tahanan rumah. "Saya mungkin satu-satunya orang yang dituntut melanggar hak cipta yang pernah ditahan selama 40 hari," kata Deni Aryasa.
Peradilan kasus hak cipta ini akan dilanjutkan pada Rabu (17/9) mendatang di Pengadilan Negeri Denpasar dengan agenda pledoi atau tanggapan terhadap tuntutan jaksa.
Motif fleur ini juga telah dipatenkan di Amerika Serikat, sehingga kini perajin perak di Bali yang menggunakan motif yang sama pun terancam ikut terjerat pelanggaran hak cipta. Asosiasi Perajin Perak mencatat terdapat sedikitnya 800 motif perak tradisional Bali yang telah dipatenkan pihak asing di Amerika Serikat.
===========================
Berikut kisah yang lagi hangat di milis-milis
Kisah Sedih dari Bali
Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengerajin perak dari
Gianyar, Bali. Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang
konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain
tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali
karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual
Property Rights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.
"Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa
motif asli Bali seperti `patra punggal', `batun poh', dan beberapa
motif lainnya juga dipatenkan" kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.
Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana.
Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul
dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing.
Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang
Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.
Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom
Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh
warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. "Sebelumnya, dalam
satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak.
Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan
satu desain pun," ujarnya hari ini.
Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan
budaya di tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang
dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik
Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi
Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain
sebagainya.
LANGKAH KE DEPAN
Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang
melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago Culture Initiatives
(IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di
http://budaya-indonesia.org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di
atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu. Setidaknya
ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:
1. Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada
rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik
bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi
IACI di email: office@budaya- indonesia. org
2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan
hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi,
jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang
budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA
INDONESIA, dengan alamat http://budaya-indonesia.org/ Jika Anda
memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di
email: office@budaya- indonesia. org
Langganan:
Postingan (Atom)
